Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset Keilmuan dan Kemitraan Masyarakat (RITMA) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menggelar kegiatan Asset-Based Community Development (ABCD) dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Asset-Based Community Development melalui Optimalisasi Aset Lokal” pada Jumat, 1 Mei 2026 di Aula Perpustakaan Daerah Gowa.–Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan aset dan potensi lokal yang dimiliki masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pembangunan masyarakat dapat dimulai dari kemampuan dan kekuatan yang telah dimiliki masyarakat itu sendiri, bukan hanya berfokus pada permasalahan yang ada.Dalam pemaparannya, pemateri menjelaskan bahwa inti dari pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) adalah mengembangkan masyarakat dengan memanfaatkan modal dan kemampuan yang telah mereka miliki. “Kita datang untuk menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki kekuatan dan modal yang mereka bisa bangun sendiri di atas kaki mereka sendiri,” ujarnya.Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan berbasis aset lokal dinilai lebih efektif dibanding pendekatan berbasis masalah karena memiliki keberlanjutan yang lebih kuat. Menurutnya, pendekatan dari luar sering kali tidak bertahan lama ketika bantuan tersebut berhenti diberikan. “Kalau melakukan pendekatan berdasarkan kekuatan yang dimiliki masyarakat sendiri, maka akan ada rasa memiliki terhadap apa yang mereka bangun,” jelasnya.Pemateri turut memberikan contoh konkret aset lokal yang dapat dikembangkan, seperti keterampilan membuat kue dan kemampuan lainnya yang dimiliki masyarakat. Menurutnya, peran mahasiswa dan fasilitator adalah menjadi jembatan untuk membantu masyarakat mengembangkan keterampilan tersebut, baik dari segi kualitas produk maupun pemasaran.Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam penerapan konsep ABCD di lapangan, yaitu perubahan paradigma masyarakat yang masih cenderung berfokus pada bantuan materi. “Masyarakat kadang menganggap orang luar datang membawa uang, padahal tujuan kita adalah membantu mengembangkan skill mereka agar bisa lebih maju,” tambahnya.Di akhir sesi, pemateri berharap peserta dapat mulai menerapkan pendekatan ABCD dalam kehidupan bermasyarakat dan tidak takut mencoba hal baru. “Sudah ada pendekatan baru yang ditawarkan maka silakan diterapkan dan jangan takut gagal. Gagal adalah kunci sukses,” ungkapnya.Sementara itu, Koordinator Departemen Penelitian dan Kemitraan Masyarakat (PKM) RITMA UIN Alauddin Makassar, Rahmalia Agustina, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bahwa setiap masyarakat sejatinya memiliki aset yang sering kali tidak disadari karena terlalu fokus mencari masalah.“Nah melalui teori ABCD ini kita bisa melakukan pendekatan yang merangkul semua elemen masyarakat dan membuat mereka merasa dihargai, memiliki tanggung jawab bersama, serta memiliki rasa memiliki (sense of belonging),” ujarnya.Ia juga menjelaskan bahwa potensi aset lokal dapat dimulai dari hal sederhana, seperti kemampuan diri sendiri (human capital), aset alam, aset sosial, hingga aset finansial. Menurutnya, penerapan konsep ABCD dapat dimulai melalui observasi terhadap aset yang selama ini terabaikan dan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat yang dipercaya agar tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dan fasilitator.Rahmalia menambahkan bahwa peran mahasiswa, khususnya RITMA, dalam mengoptimalkan aset lokal dapat dilakukan dengan menjadi fasilitator penemuan potensi, pemetaan kreatif, inovator, digitalisator, hingga penghubung jaringan. “Peran kita adalah mengubah pola pikir masyarakat dari ‘kita butuh bantuan apa?’ menjadi ‘kita punya apa dan bisa jadi apa,’” jelasnya.Salah satu peserta kegiatan, Taufik Hidayah, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menambah pemahamannya mengenai pengembangan masyarakat dan pendekatan identifikasi masalah.Ia juga melihat bahwa aset lokal memiliki potensi besar dalam pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi untuk meningkatkan sumber daya manusia. “Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah melakukan pemetaan sosial dan menerapkan strategi yang telah saya pelajari,” ujarnya.Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta mampu memahami pentingnya pemberdayaan masyarakat berbasis aset lokal serta mampu menjadi fasilitator yang membantu masyarakat berkembang melalui potensi yang mereka miliki sendiri.
Penulis: Nur Rahma Ainun Fatima
Editor: Syahriana
